Mahasiswa Kehutanan Diajak Bangun Karakter dari Kampus hingga Lapangan
Jurusan Kehutanan Universitas Jambi (UNJA) telah sukses menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Menanam Integritas, Menuai Profesionalisme: Membangun Karakter Mahasiswa Kehutanan dari Kampus hingga Lapangan". Acara yang diadakan di Gedung UNIFAC Lantai 3 UNJA pada 17 September 2025 ini menghadirkan Prof. Dr. Efi Yuliati Novi, S.Hut., M.Life.Env.Sc sebagai narasumber utama yang merupakan dosen Fakultas Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Kuliah umum yang dimoderatori oleh Ibu Ir. Maria Ulfa, S.Hut., M.Si ini diikuti oleh total 289 peserta, yang terdiri dari 60 peserta luring dan 229 peserta daring. Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Mursalin, S.TP., M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama Fakultas Pertanian.

Dalam pemaparannya, Prof. Efi Yuliati Novi menekankan peran vital hutan sebagai sumber daya multispektrum yang mencakup aspek ekonomi, ekologi, dan sosial. Beliau menyoroti kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang luar biasa, dengan 120,4 juta hektar daratan yang merupakan kawasan hutan. Namun, potensi ini menghadapi berbagai ancaman serius seperti : illegal logging, deforestasi, konflik tenurial, dan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar.

“Berhasil atau tidaknya suatu misi sangat bergantung pada karakter intelektual dan moral. Namun, pada dasarnya peran moral lebih dominan," ujar Prof. Yovi. Beliau menambahkan bahwa attitude atau sikap memiliki peran 100% dalam membentuk kesuksesan, karena attitude changes everything.
Lima dimensi utama pembentuk karakter moral yang harus dimiliki seorang rimbawan adalah pengetahuan moral, gaya pengambilan keputusan, sosialisasi, empati, dan otonomi. Karakter ini, lanjutnya, akan melahirkan integritas, tanggung jawab ekologis, keadilan sosial, keberanian konservasi, serta kesabaran, dan ketekunan dalam menghadapi tantangan.

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis, dengan mahasiswa yang antusias bertanya mengenai implementasi ilmu kehutanan di tengah masyarakat. Salah satu pertanyaan menyoroti bagaimana menghadapi masyarakat yang memenuhi kebutuhan hidupnya dari kawasan hutan lindung. Menanggapi hal ini, Prof. Yovi menyarankan mahasiswa untuk bertindak sebagai scientist society yang mengumpulkan data secara faktual dan etis sebelum mengambil kesimpulan. “Lihat kondisi masyarakat terlebih dahulu, apa alasan mereka melakukan kegiatan ini, apakah karena ekonomi, ketidaktahuan, atau merasa punya nenek moyang," jelasnya.
Selain itu, Prof. Yovi juga mendorong para calon sarjana kehutanan untuk meraih pengakuan profesional melalui sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) guna meningkatkan kredibilitas dan daya saing di tingkat regional maupun internasional.
Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa nilai seorang rimbawan ditentukan oleh seberapa besar upayanya dalam menjaga keseimbangan interaksi antara hutan dan manusia.

