Seminar Jurusan Kehutanan Universitas Jambi: Koeksistensi di Tengah Perubahan Guna Mewujudkan Kehidupan Bersama Gajah di Indonesia
Jurusan Kehutanan Universitas Jambi (UNJA) kembali menyelenggarakan Seminar Jurusan dengan mengangkat tema konservasi satwa yaitu ” Koeksistensi di Tengah Perubahan: Mewujudkan Kehidupan Bersama Gajah di Indonesia". Acara ini dilaksanakan di Ruang Rektor Gedung UNIFAC lantai 3 Universitas Jambi pada hari Rabu (24/09/2025) yang dipandu dan di moderatori oleh Ibu Ir. Cory Wulan, S.Hut., M.Si. selaku Dosen Kehutanan Universitas Jambi dengan bidang keahlian konservasi satwa. Seminar menghadirkan dua narasumber ahli khususnya konservasi gajah, yakni Elisabeth Devi Krismuniarti, S.Si, M.E dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) secara daring dan Rohmat Eko Santoso, S.Hut, M.Sc dari PT. REKI secara luring.
Acara ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Pertanian UNJA, Dr. Forst. Bambang Irawan, S.P., M.Sc. IPU., Ketua Jurusan Kehutanan, Dr. Ir. Eva Achmad, S.Hut., M.Sc. IPM., serta perwakilan dari BPHL IV Jambi, Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi, Dinas Kehutanan Jambi, PT. WKS, BKSDA Jambi, dan stakeholder lainnya. Selain itu, seminar ini juga dihadiri oleh dosen dan staf Program Studi Kehutanan Universitas Jambi, dosen dan mahasiswa Kehutanan dari Universitas Muhammadiyah (UM) Jambi, Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Jambi, baik secara daring via zoom ataupun luring. Total peserta sebanyak 170 peserta yang terdiri 110 orang peserta luring, dan 60 orang peserta daring.

Narasumber pertama, Elisabeth Devi Krismuniarti, S.Si, M.E., yang mewakili Taman Nasional Way Kambas (TNWK), memaparkan kondisi konservasi gajah secara mendalam. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan berbagai strategi pengelolaan konflik antara manusia dan gajah yang telah diterapkan di TNWK. Strategi tersebut meliputi: penggunaan Pusat Latihan Gajah (PLG) sebagai lokasi pengelolaan dan pelatihan gajah liar berdasarkan ukuran dan postur tubuhnya, kegiatan patroli intensif yang dilakukan pada jalur-jalur masuk dan keluar gajah liar, pemasangan GPS collar untuk memantau pergerakan kelompok gajah, serta tindakan penggiringan dan blokade sebagai upaya mitigasi konflik. Lebih lanjut, Bu Devi menjelaskan keterlibatan tim patroli yang terdiri atas petugas TNWK, mitra konservasi seperti KHS, dan masyarakat lokal yang telah dibekali keterampilan khusus, dengan jumlah anggota mencapai 211 orang dalam Kelompok Mitigasi Patroli (MMP) Gajah.

Narasumber kedua, Rohmat Eko Santoso, S.Hut, M.Sc, dari PT. REKI, membagikan pengalaman praktis pengelolaan restorasi ekosistem di Lanskap Hutan Harapan. Dalam paparannya, beliau menekankan berbagai upaya pencegahan deforestasi, perlindungan habitat, serta pentingnya integrasi partisipasi aktif masyarakat setempat dalam kegiatan restorasi. Selain itu, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) diperkenalkan sebagai strategi untuk mendukung kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan, sehingga menjadi contoh nyata pengelolaan hutan yang berkelanjutan.


Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung sangat dinamis dan konstruktif. Beberapa isu penting yang muncul antara lain: analisis data GPS collar yang digunakan untuk memprediksi pola pergerakan gajah secara spasial dan temporal guna memitigasi konflik, efektivitas infrastruktur seperti kanal di Way Kambas dalam mencegah gajah memasuki kebun warga meski masih memerlukan perbaikan, rencana pembangunan koridor satwa di wilayah yang terganggu aktivitas tambang dengan opsi underpass maupun overpass, serta pengembangan teknologi pemantauan tambahan seperti bioakustik dan global messenger meskipun terdapat keterbatasan teknis dan biaya. Diskusi juga menyoroti kualitas kawasan lindung di wilayah konsesi yang menghadapi tantangan penurunan tutupan hutan, dimana PT. REKI mengimplementasikan strategi patroli, sosialisasi, penegakan hukum, dan pendekatan ekonomi melalui HHBK. Selain itu, pembahasan mengenai perilaku home range gajah dan kendala reproduksi yang dipengaruhi faktor kesehatan dan psikologis juga menjadi perhatian, dengan berbagai upaya seperti translokasi betina dan inseminasi buatan yang sedang dikembangkan. Peran GPS collar sebagai sistem deteksi dini konflik direview dengan catatan biaya tinggi dan keterbatasan teknis, serta peran penting Kelompok Mitigasi Gajah (KMG) yang mengelola data tersebut.

Acara ditutup oleh moderator, Ir. Cory Wulan, S.Hut, M.Si., yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan multi-pihak dalam pengelolaan konflik manusia-gajah, pemanfaatan inovasi teknologi seperti GPS collar dan bioakustik, serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai bagian dari strategi konservasi jangka panjang. Beliau berharap hasil seminar ini dapat memberikan masukan berharga untuk pengembangan kebijakan dan praktik konservasi serta restorasi ekosistem yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Dengan terselenggaranya seminar ini, Universitas Jambi berkomitmen terus mendorong kegiatan akademik yang tidak hanya memperkuat iptek dan wawasan mahasiswa namun juga berkontribusi positif terhadap konservasi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

